Lama bangets ya gak apdet blog ... 3 mingguan gitu deh ... pasal muasalnya selama 3 minggu itu bahkan sampe sekarang, saya ngerasanya beteee mulu .. yah, bete di kantor, di jalan, di rumah di everywhere ...
Di Kantor
Kerjaan di kantor gak berubah, gitu-gitu aja, saking samanya tiap hari, gerak tubuh saya jadi ter otomatisasi. Makin hari kok saya jadi seperti robot yah ... gak ada dinamika, dan yang paling penting, gak ada lagi tantangan, gak ada lagi harus mikir, poor deh saya ... I am boring ..
Di Jalan
Perilaku para pengguna jalan sungguh sangat menyebalkan ... mulai dari para pengemudi sepeda motor, sampe para pengemudi mobil mentereng. Sering bangets motor-motor itu memotong ke kanan dari sebelah kiri, atau saya sudah kasih lampu sen mo muter balik, mereka dengan nekatnya mendahului hanya dengan modal klakson doang, yang paling parah ... pada saat saya lagi di jalan tol, saya sudah berada di lajur kiri dengan kecepatan 80 km/jam, masa dari belakang di dim mulu, dia pikir saya disuruh minggir kemana lagi ?? disuruh masuk jurang ?? kalo dia pengen mendahului saya kenapa dia gak ke lajur kanan ??? Dassar gak sopan ... !
Di Rumah
Pulang kantor, sampe rumah disambut oleh cucian kotor sama setrikaan. Ya Ampyuun ... padahal baru kemaren sudah saya abisin tuh setrikaan ... ada lagi, ada lagi, mana rumah juga berantakan, belum di sapu apalagi di pel, belum lagi piring kotor. Oh my God ... sudah hampir 4 bulan di rumah emang lagi gak ada asisten rumah tangga, tapi saya belum juga nyari penggantinya, masalahnya saya males harus ngajarin asisten dari awal karena sepanjang sejarah perasistenan saya, gak pernah ada asisten yang bisa langsung start kerja walopun dia menyandang predikat "berpengalaman".
Jadi bisa dibayangin dunk gimana betenya saya ...
Rutinitas yang harus saya jalani bikin badan sama hati saya pegel rasanya, kalo sudah begini, saya cuma bisa berandai-andai ... kalo saja saya gak usah pergi kerja ke kantor ...
Rabu, 26 November 2008
Senin, 03 November 2008
Imam Samudera Juga Manusia
Menjelang dilakukannya eksekusi mati Imam Samudera (menurut kabar di media paling cepat dilaksanakan dini hari besok ), saya menyempatkan diri membaca buku tulisannya Imam Samudera berjudul "aku melawan teroris" lewat internet. Belum tuntas sih bacanya, tapi saya sudah mesem-mesem sendiri, "aiih ... Imam Samudera, ternyata kamu narsis juga ya, pake ada bo'ong-bo'ongnya lagi ...ternyata kamu masih kayak dulu, gak mau kalah ..." hehehe.
Saya sih bukannya mau sok meluruskan sejarah, tapi gimanapun juga saya punya story yang melibatkan Imam Samudera dan isterinya Zakiyah Daradjad. Yoi ... kami memang bersahabat. Imam Samudera, atau saya lebih senang memanggilnya Abdul Aziz adalah sahabat saya waktu remaja. Persahabatan yang dimulai dari kelas 1 di SD IX Serang sampai kelas 3 SMP. Persahabatan kami memang unik, karena dibayang-bayangi persaingan. Bersaing untuk meraih juara kelas, bersaing untuk meraih juara murid teladan, bersaing untuk memenangkan lomba baca puisi. Sayalah "si anak penilik sekolah" di bukunya Imam Samudera. Tapi asal tau aja, di bukunya, Imam Samudera banyak membual, waktu SD dia gak pernah jadi juara kelas, karena dia gak pernah bisa ngalahin saya si anak penilik itu, dia juga bukan murid teladan, dia memang mewakili sekolah mengikuti lomba murid teladan bersama saya, tapi dia sekalipun gak pernah memenangkannya, dia bukan pemenang lomba baca puisi, dia memang bersama saya mengikuti lomba baca puisi, tapi dia sama sekali gak menang karena yang memenangkan lomba itu adalah saya. Waktu SD dia juga gak pernah sekalipun jadi ketua kelas, jadi bagaimana bisa dia bilang bahwa waktu SMP bersyukur gak jadi ketua kelas karena sudah bosan ... bokis banget deh ..
Lepas dari tindakannya sebagai pelaku bom Bali I, buat saya Imam Samudera alias Abdul Aziz tidak berubah, tetap sama seperti yang dulu saya kenal. Ambisius, selalu ingin jadi nomor satu, selalu ingin jadi pemimpin. Tapi dibalik kekerasan sikapnya itu sebetulnya dia adalah anak cengeng, persis seperti yang dituturkan oleh pamannya dalam suatu wawancara dengan media.
Di televisi seringkali di tayangkan sosok Imam Samudera yang tegas, keras, dan radikal. Padahal saya tahu persis, Abdul Aziz adalah sosok yang sering mengalami kekalahan bahkan dari kaum hawa sekalipun, termasuk dari saya dan Zakiyah Daradjad. Saya ingat, waktu SD dia begitu lelah mengejar saya supaya bisa jadi juara kelas, supaya bisa jadi juara baca puisi, supaya bisa jadi juara pramuka, supaya bisa jadi juara-juara lainnya, anehnya walaupun kami rival tapi kami tetap bersahabat, itu mungkin sisi baiknya Abdul Aziz, dia masih sportif waktu itu , tak jarang dia mengantar saya pulang sehabis latihan pencak silat tiap malam jum'at. Lulus SD kami melanjutkan ke SMP yang berbeda, saya ke SMPN 2, Aziz ke SMPN 4. Tapi persaingannya dengan kaum hawa gak berhenti sampai disini, di SMP ternyata rivalnya adalah Zakiyah, anak SDL 2 yang telah kami kenal sebelumnya di acara lomba-lomba. Saya tau, dia juga lelah bersaing dengan Zakiyah untuk jadi ketua kelas, untuk jadi juara kelas, untuk jadi ketua OSIS, dan dia tak pernah berhasil, tapi dia beruntung, di kelas 1 SMP dia sudah memenangkan hati Zakiyah.
Dalam bukunya Imam Samudera mengesankan kalo dia menjadi muslim yang kaffah sejak duduk di bangku kelas 1 SMP, padahal saya ingat betul, saat itu dia sedang asyik-asyiknya menikmati kehidupan remaja, bayangkan saya saja waktu itu belum mengenal cinta monyet dia sudah menjalin cinta dengan Zakiyah !. Pernah suatu siang mereka main ke rumah saya, waktu kami bertiga sedang asyik ngobrol tiba2 aja dia menegur keras Zakiyah karena belum solat, terus terang saya bete abis, bukan soal solatnya, tapi caranya menegur Zakiyah sangat otoriter dan penuh kuasa. Belakangan saya paham, dia begitu karena cuma pada saat jadi pacar Zakiyah dia bisa punya power, selebihnya, Zakiyah lah yang nomor satu, Zakiyah sang juara, Zakiyah sang ketua OSIS.
Ah Aziz ... di pesawat yang akan membawanya menuju Afganistan hanya Zakiyah yang dia pikirkan dan sempet2nya dia nulis kartu pos untuk Zakiyah, pun di negeri jihad yang dia pilih, disaat dia menenteng bedil hanya bayangan Zakiyah pula yang selalu ada dalam pikirannya, padahal sejak lulus SMP dia sudah memutuskan untuk menjaga pandangannya dan tidak mau bersalaman dengan perempuan non mahram, padahal dia tahu persis dengan selalu memikirkan Zakiyah dia sedang melakukan zina hati. Bahkan seorang Imam Samudera tidak bisa mengalahkan nafsunya sendiri.
Banyak orang takut (baca; sebel) dengan sorot matanya yang sangat tajam dan nanar itu. Saya telah melihat sorot mata itu dari dulu. Itu memang sorot mata kemarahan, tapi itu tak lebih dari marah pada dirinya sendiri, karena ternyata dia tidak sehebat yang dia inginkan.
Dalam buku biografi yang ditulisnya dia tak pernah sekalipun mengungkapkan kekalahan yang dialaminya. Kekalahan dari sahabatnya, kekalahan dari sang pujaan hatinya, kekalahan dari temannya di MAN saat memperebutkan bea siswa menempuh pendidikan di luar negeri. Saya mahfum, karena dia memang selalu ingin (kelihatan) jadi nomor satu. Mungkin dia ingin menggenapkan dirinya sebagai seorang mujahidin yang sempurna. It's oke ..
Pada saat Bom Bali I terjadi, saya mengikuti berita pencarian pelakunya. Pada saat polisi menyatakan tersangka pelaku adalah Imam Samudera alias Qudama saya merasa mengenalnya, benar saja, saat Imam Samudera ditangkap dan diperlihatkan di televisi ternyata dia memang Abdul Aziz sahabat kecil saya.
Pada saat dia berteriak "Allahu Akbar" dengan sorot mata yang nanar, saya sedikitpun tak pernah ingin bertanya "kenapa atau mengapa dia melakukan itu". Karena saya mengenal dia, dan ternyata dia tak pernah berubah ...
Saya sih bukannya mau sok meluruskan sejarah, tapi gimanapun juga saya punya story yang melibatkan Imam Samudera dan isterinya Zakiyah Daradjad. Yoi ... kami memang bersahabat. Imam Samudera, atau saya lebih senang memanggilnya Abdul Aziz adalah sahabat saya waktu remaja. Persahabatan yang dimulai dari kelas 1 di SD IX Serang sampai kelas 3 SMP. Persahabatan kami memang unik, karena dibayang-bayangi persaingan. Bersaing untuk meraih juara kelas, bersaing untuk meraih juara murid teladan, bersaing untuk memenangkan lomba baca puisi. Sayalah "si anak penilik sekolah" di bukunya Imam Samudera. Tapi asal tau aja, di bukunya, Imam Samudera banyak membual, waktu SD dia gak pernah jadi juara kelas, karena dia gak pernah bisa ngalahin saya si anak penilik itu, dia juga bukan murid teladan, dia memang mewakili sekolah mengikuti lomba murid teladan bersama saya, tapi dia sekalipun gak pernah memenangkannya, dia bukan pemenang lomba baca puisi, dia memang bersama saya mengikuti lomba baca puisi, tapi dia sama sekali gak menang karena yang memenangkan lomba itu adalah saya. Waktu SD dia juga gak pernah sekalipun jadi ketua kelas, jadi bagaimana bisa dia bilang bahwa waktu SMP bersyukur gak jadi ketua kelas karena sudah bosan ... bokis banget deh ..
Lepas dari tindakannya sebagai pelaku bom Bali I, buat saya Imam Samudera alias Abdul Aziz tidak berubah, tetap sama seperti yang dulu saya kenal. Ambisius, selalu ingin jadi nomor satu, selalu ingin jadi pemimpin. Tapi dibalik kekerasan sikapnya itu sebetulnya dia adalah anak cengeng, persis seperti yang dituturkan oleh pamannya dalam suatu wawancara dengan media.
Di televisi seringkali di tayangkan sosok Imam Samudera yang tegas, keras, dan radikal. Padahal saya tahu persis, Abdul Aziz adalah sosok yang sering mengalami kekalahan bahkan dari kaum hawa sekalipun, termasuk dari saya dan Zakiyah Daradjad. Saya ingat, waktu SD dia begitu lelah mengejar saya supaya bisa jadi juara kelas, supaya bisa jadi juara baca puisi, supaya bisa jadi juara pramuka, supaya bisa jadi juara-juara lainnya, anehnya walaupun kami rival tapi kami tetap bersahabat, itu mungkin sisi baiknya Abdul Aziz, dia masih sportif waktu itu , tak jarang dia mengantar saya pulang sehabis latihan pencak silat tiap malam jum'at. Lulus SD kami melanjutkan ke SMP yang berbeda, saya ke SMPN 2, Aziz ke SMPN 4. Tapi persaingannya dengan kaum hawa gak berhenti sampai disini, di SMP ternyata rivalnya adalah Zakiyah, anak SDL 2 yang telah kami kenal sebelumnya di acara lomba-lomba. Saya tau, dia juga lelah bersaing dengan Zakiyah untuk jadi ketua kelas, untuk jadi juara kelas, untuk jadi ketua OSIS, dan dia tak pernah berhasil, tapi dia beruntung, di kelas 1 SMP dia sudah memenangkan hati Zakiyah.
Dalam bukunya Imam Samudera mengesankan kalo dia menjadi muslim yang kaffah sejak duduk di bangku kelas 1 SMP, padahal saya ingat betul, saat itu dia sedang asyik-asyiknya menikmati kehidupan remaja, bayangkan saya saja waktu itu belum mengenal cinta monyet dia sudah menjalin cinta dengan Zakiyah !. Pernah suatu siang mereka main ke rumah saya, waktu kami bertiga sedang asyik ngobrol tiba2 aja dia menegur keras Zakiyah karena belum solat, terus terang saya bete abis, bukan soal solatnya, tapi caranya menegur Zakiyah sangat otoriter dan penuh kuasa. Belakangan saya paham, dia begitu karena cuma pada saat jadi pacar Zakiyah dia bisa punya power, selebihnya, Zakiyah lah yang nomor satu, Zakiyah sang juara, Zakiyah sang ketua OSIS.
Ah Aziz ... di pesawat yang akan membawanya menuju Afganistan hanya Zakiyah yang dia pikirkan dan sempet2nya dia nulis kartu pos untuk Zakiyah, pun di negeri jihad yang dia pilih, disaat dia menenteng bedil hanya bayangan Zakiyah pula yang selalu ada dalam pikirannya, padahal sejak lulus SMP dia sudah memutuskan untuk menjaga pandangannya dan tidak mau bersalaman dengan perempuan non mahram, padahal dia tahu persis dengan selalu memikirkan Zakiyah dia sedang melakukan zina hati. Bahkan seorang Imam Samudera tidak bisa mengalahkan nafsunya sendiri.
Banyak orang takut (baca; sebel) dengan sorot matanya yang sangat tajam dan nanar itu. Saya telah melihat sorot mata itu dari dulu. Itu memang sorot mata kemarahan, tapi itu tak lebih dari marah pada dirinya sendiri, karena ternyata dia tidak sehebat yang dia inginkan.
Dalam buku biografi yang ditulisnya dia tak pernah sekalipun mengungkapkan kekalahan yang dialaminya. Kekalahan dari sahabatnya, kekalahan dari sang pujaan hatinya, kekalahan dari temannya di MAN saat memperebutkan bea siswa menempuh pendidikan di luar negeri. Saya mahfum, karena dia memang selalu ingin (kelihatan) jadi nomor satu. Mungkin dia ingin menggenapkan dirinya sebagai seorang mujahidin yang sempurna. It's oke ..
Pada saat Bom Bali I terjadi, saya mengikuti berita pencarian pelakunya. Pada saat polisi menyatakan tersangka pelaku adalah Imam Samudera alias Qudama saya merasa mengenalnya, benar saja, saat Imam Samudera ditangkap dan diperlihatkan di televisi ternyata dia memang Abdul Aziz sahabat kecil saya.
Pada saat dia berteriak "Allahu Akbar" dengan sorot mata yang nanar, saya sedikitpun tak pernah ingin bertanya "kenapa atau mengapa dia melakukan itu". Karena saya mengenal dia, dan ternyata dia tak pernah berubah ...
Jumat, 31 Oktober 2008
Cabe Rawit Buka Lagi
Horee Cabe Rawit hari ini buka lagi ... !!
Setelah selama sebulan libur sejak Lebaran, kini hadir kembali menyapa para pelanggan. Kok lama banget liburnya ??? hehehe, banyak sebabnya ... yang pertama, karyawan yang jaga toko pas Lebaran kemaren pamit mo resign karena sudah dapet kerjaan di hotel, yang kedua, saya liat kondisi pasar setelah Lebaran sangat sepi, maklum pas ramadhan kemaren orang-orang kan sudah pada belanja baju, jadi saya gak terlalu kesusu nyari pengganti karyawan toko.
Setelah selama sebulan libur sejak Lebaran, kini hadir kembali menyapa para pelanggan. Kok lama banget liburnya ??? hehehe, banyak sebabnya ... yang pertama, karyawan yang jaga toko pas Lebaran kemaren pamit mo resign karena sudah dapet kerjaan di hotel, yang kedua, saya liat kondisi pasar setelah Lebaran sangat sepi, maklum pas ramadhan kemaren orang-orang kan sudah pada belanja baju, jadi saya gak terlalu kesusu nyari pengganti karyawan toko.

Urusan mencari karyawan juga ada ceritanya, adik saya yang seorang guru di SMK berusaha membantu karena banyak muridnya lulusan SMK yang belum kerja. 2 minggu yang lalu sudah ada mantan muridnya yang butuh sekali pekerjaan untuk membiayai adiknya sekolah, disepakati janjian di toko, tapi 2 hari ditunggu-tunggu anaknya gak nongol-nongol, saya sampe ilfil dibuatnya ... Papa ikut membantu mencari karyawan di sekitar rumah, pertimbangannya supaya lebih mudah mengontrol dan senang aja kalo bisa memberi pekerjaan pada tetangga dekat, tapi ternyata kebanyakan orang-orang dekat rumahku lulusan SD yang gak lancar baca tulis ... Suatu hari, jam 5 subuh dateng ibu-ibu ke rumah mengajukan diri untuk menjaga Cabe Rawit. Surprised juga ... ibu itu selama ini kerjanya jadi tukang cuci di rumah tetangga, bukan bermaksud mau underestimed sih ... tapi yang saya cari kan penjaga toko yang mewakili images Cabe Rawit sebagai moslem distro, tapi saya gak ingin mematahkan semangat sang ibu, akhirnya saya bilang oke, tapi harus ditest dulu kemampuan matematikanya, ngitung diskon dan bikin nota. Karena pagi itu saya harus ngantor jadi disepakati test nya nanti malem setelah isya.
Akhirnya .... ditunggu-tunggu .... sampe jam sebelas malem ibu itu gak keliatan batang hidungnya.
Untungnya selama toko libur dan selama proses pencarian karyawan baru order online jalan terus, banyak permintaan dari Jakarta, Makassar dan Pekanbaru. Alhamdulillah ... Hari Rabu adik saya SMS, dia dapat calon lagi untuk karyawan toko, anak lulusan SMK. Hari Kamis kami janjian ketemu, wawancara sedikit, dan saya sreg sama anak ini. Sopan, gesit, dan punya pengalaman sebagai karyawan toko. Malahan dalam 2 jam uji coba, dia sudah membukukan transaksi penjualan. Sepasang sandal kartun dan 2 pcs selimut jepang berhasil terjual.
Hari ini Cabe Rawit dengan spirit baru, team baru, go go go !
Kamis, 30 Oktober 2008
Upacara

Barusan saya ikut upacara bendera memperingati Hari Keuangan RI ke -62. Pada tau lah apa itu upacara ... jaman kita sekolah, dari SD sampe SMA setiap hari Senin pasti mengikuti upacara bendera. Pas kuliah aja mungkin kegiatan ini jarang dilakukan.
Bagi sebagian orang, upacara mungkin adalah kegiatan yang gak punya arti, malah kadang dihindari, yang alasan panas lah, capek, males, ngapain deh kayak tentara aja.. pokoknya kalo disuruh milih mending enggak ... gitu khan ... makanya pas jaman sekolah banyak yang pada maen kucing-kucingan dengan guru piket demi menghindari biar gak ikut upacara.
Hari ini, saya malah merasa beruntung bisa ikut upacara bendera. Pada saat bendera mulai dikibarkan, diiringi lagu kebangsaan Indonesia Raya, tiba-tiba saja hati saya tersentuh, semangat nasionalisme saya bangkit "kita hidup di Indonesia, man ... ini fakta, kita makan disini, tidur disini, kalo Indonesia tenggelam, kita mo hidup di mana ? lalu kamu sudah melakukan apa untuk negerimu ??".
Teman, saya menitikkan air mata ... selama hampir 38 tahun hidup saya, banyak hal yang telah saya pikirkan, banyak hal yang telah saya lakukan. Saya telah mengabdi pada negara selama hampr 16 tahun, mengemban amanah sebagai penghimpun penerimaan negara. Ada saat dimana saya merasa lelah, karena kondisi negara yang carut marut digerogoti oleh para koruptor-koruptor. Ada saat dimana saya merasa muak, karena putus asa para pencoleng negara tak ada yang jera. Ada saat dimana saya ingin berhenti. Pensiun Dini ...
Saya terisak dalam hati, haruskah kutinggalkan Indonesia ?
Sungguh, saya tersedan dalam hati, mendengar sambutan ibu Menteri yang terkasih, ibu Sri Mulyani. Beliau menginginkan dukungan semua pegawai di Departemen Keuangan untuk menjadi pengelola keuangan negara yang bersih, transparan, penuh integritas, dan akuntable.
Saya tergugu,
Saya terpekur,
Ibu, doakan saya agar saya masih bisa bertahan disini, agar saya masih bisa memberi untuk negeri ini, agar saya tidak melihat persimpangan jalan, supaya saya tetap ingin disini ... di sini ...
Bagi sebagian orang, upacara mungkin adalah kegiatan yang gak punya arti, malah kadang dihindari, yang alasan panas lah, capek, males, ngapain deh kayak tentara aja.. pokoknya kalo disuruh milih mending enggak ... gitu khan ... makanya pas jaman sekolah banyak yang pada maen kucing-kucingan dengan guru piket demi menghindari biar gak ikut upacara.
Hari ini, saya malah merasa beruntung bisa ikut upacara bendera. Pada saat bendera mulai dikibarkan, diiringi lagu kebangsaan Indonesia Raya, tiba-tiba saja hati saya tersentuh, semangat nasionalisme saya bangkit "kita hidup di Indonesia, man ... ini fakta, kita makan disini, tidur disini, kalo Indonesia tenggelam, kita mo hidup di mana ? lalu kamu sudah melakukan apa untuk negerimu ??".
Teman, saya menitikkan air mata ... selama hampir 38 tahun hidup saya, banyak hal yang telah saya pikirkan, banyak hal yang telah saya lakukan. Saya telah mengabdi pada negara selama hampr 16 tahun, mengemban amanah sebagai penghimpun penerimaan negara. Ada saat dimana saya merasa lelah, karena kondisi negara yang carut marut digerogoti oleh para koruptor-koruptor. Ada saat dimana saya merasa muak, karena putus asa para pencoleng negara tak ada yang jera. Ada saat dimana saya ingin berhenti. Pensiun Dini ...
Saya terisak dalam hati, haruskah kutinggalkan Indonesia ?
Sungguh, saya tersedan dalam hati, mendengar sambutan ibu Menteri yang terkasih, ibu Sri Mulyani. Beliau menginginkan dukungan semua pegawai di Departemen Keuangan untuk menjadi pengelola keuangan negara yang bersih, transparan, penuh integritas, dan akuntable.
Saya tergugu,
Saya terpekur,
Ibu, doakan saya agar saya masih bisa bertahan disini, agar saya masih bisa memberi untuk negeri ini, agar saya tidak melihat persimpangan jalan, supaya saya tetap ingin disini ... di sini ...
Rabu, 29 Oktober 2008
Persimpangan Jalan Itu Semakin Dekat
Tetap TDB atau Full TDA ?
Kerja di Kantor atau Jadi Bussines Woman ?
Wanita Karier atau Workt At Home Mom ?
Aduh ... pusing tujuh keliling ...
Kerja di Kantor atau Jadi Bussines Woman ?
Wanita Karier atau Workt At Home Mom ?
Aduh ... pusing tujuh keliling ...
Senin, 20 Oktober 2008
Ironi
Karena di rumah lagi gak ada asisten dan saya gak sempet masak, jadinya kalo malem kami beli makan di luar. Beberapa hari yang lalu, kami makan malam di warung tenda nasi uduk empal mang Adung di kawasan Pasar Lama, Serang.
Nasi uduknya gurih, empalnya juga empuk, seporsi nasi uduk empal plus emping harganya Rp. 12.000. Lumayan lah ...
Selesai makan, pas mau pulang, saya berpapasan dengan seorang ibu plus 2 anaknya yang baru saja masuk ke warung. Oalaah ... ternyata dia teman saya waktu SD dulu di SDN IX Serang. Namanya Iroh Junairoh. Dia bersama suaminya adalah seorang pengusaha yang terbilang sukses. Pertemuan saya dengan Iroh sebetulnya terjadi 1,5 tahun yang lalu. Waktu itu gak sengaja, pas saya lagi belanja ke pasar Rau Trade Centre, saya melewati sebuah toko kosmetik yang besar dan ramee banget. begitu saya tengok boss toko itu ternyata Iroh temen dekat saya waktu SD yang sudah putus kontak selama hampir 24 tahun !.
Senang rasanya bertemu kembali dengan teman lama, apalagi teman kita sudah berhasil dalam bisnisnya, memiliki banyak karyawan, dan sudah menunaikan ibadah haji.
Lucunya, disaat saya sedang mengagumi dan menyatakan salut saya pada keberhasilan bisnisnya, dia malah menyatakan keminderannya karena gak bisa jadi pegawai negeri sipil seperti saya ( waduuh ... kok?).
Dan malem itu, dipertemuanku yang kedua dengan Iroh, dia membuat maklumat. "Lin, saya akan berusaha sekuat tenaga, supaya 2 anak saya ini tidak meneruskan usaha saya. Dia harus jadi pegawai !"
Gubraaak ! dunia terasa berputar-putar. Kenapa jadi begini ?
Disaat saya sedang gelisah karena naluri bisnis memanggil-manggil, disaat saya sedang resah karena saya ingin memiliki bisnis yang berhasil supaya dapat diwariskan kepada anak-anak, justru seorang yang telah berhasil bisnisnya malah tidak ingin mewariskan bisnisnya pada anak-anaknya.
"Mengapa rumput tetangga terlihat lebih hijau ?"
Nasi uduknya gurih, empalnya juga empuk, seporsi nasi uduk empal plus emping harganya Rp. 12.000. Lumayan lah ...
Selesai makan, pas mau pulang, saya berpapasan dengan seorang ibu plus 2 anaknya yang baru saja masuk ke warung. Oalaah ... ternyata dia teman saya waktu SD dulu di SDN IX Serang. Namanya Iroh Junairoh. Dia bersama suaminya adalah seorang pengusaha yang terbilang sukses. Pertemuan saya dengan Iroh sebetulnya terjadi 1,5 tahun yang lalu. Waktu itu gak sengaja, pas saya lagi belanja ke pasar Rau Trade Centre, saya melewati sebuah toko kosmetik yang besar dan ramee banget. begitu saya tengok boss toko itu ternyata Iroh temen dekat saya waktu SD yang sudah putus kontak selama hampir 24 tahun !.
Senang rasanya bertemu kembali dengan teman lama, apalagi teman kita sudah berhasil dalam bisnisnya, memiliki banyak karyawan, dan sudah menunaikan ibadah haji.
Lucunya, disaat saya sedang mengagumi dan menyatakan salut saya pada keberhasilan bisnisnya, dia malah menyatakan keminderannya karena gak bisa jadi pegawai negeri sipil seperti saya ( waduuh ... kok?).
Dan malem itu, dipertemuanku yang kedua dengan Iroh, dia membuat maklumat. "Lin, saya akan berusaha sekuat tenaga, supaya 2 anak saya ini tidak meneruskan usaha saya. Dia harus jadi pegawai !"
Gubraaak ! dunia terasa berputar-putar. Kenapa jadi begini ?
Disaat saya sedang gelisah karena naluri bisnis memanggil-manggil, disaat saya sedang resah karena saya ingin memiliki bisnis yang berhasil supaya dapat diwariskan kepada anak-anak, justru seorang yang telah berhasil bisnisnya malah tidak ingin mewariskan bisnisnya pada anak-anaknya.
"Mengapa rumput tetangga terlihat lebih hijau ?"
Selasa, 14 Oktober 2008
Ratu Bazaar

"Si Ratu Bazaar" julukan yang diberikan oleh seorang teman kepada saya.
Terus terang, saya memang bazaar mania, bisa juga dibilang bazaar hunter. Saya sangat menikmati sensasi yang ditimbulkan dari suatu bazaar. Gimana gak, saya harus bisa mencapai target penjualan dalam jangka waktu yang sangat terbatas, umumnya bazaar diselenggarakan cuma sehari, kadang malah cuma setengah hari. Jadi, kalo ikutan bazaar kita betul-betul ditantang untuk membuat strategi yang jitu dengan kekuatan penuh biar bisa sukses.
Berdasarkan pengalaman mengikuti bazaar selama ini, berikut sedikit tips bagi yang mo ikutan bazaar :
1. Pilih tempat yang strategis, usahakan berada di sebelah kanan, karena secara psikologis umumnya pengunjung yang masuk mengambil arah ke kanan.
2. Display barang jualan kita se atraktif mungkin. Barang sebagus apapun kalo cuma ditumpuk doang siapa yang mau lihat ...
3. Buat brosur yang membuat orang penasaran, jangan lupa cantumkan nomor telepon dan alamat kita.
4. Sediakan uang pecahan untuk kembalian, sebaiknya ditaruh dalam tas selempang supaya gerak kita tidak terbatas.
5. Berikan penjelasan detail untuk produk yang kita jual
6. Pelayanan prima plus senyum ramah disertai ucapan terima kasih
Kalo semua tips sudah dipraktekkan tapi dagangan kita gak laku juga ?
Itu artinya belum rezeki kita. Jangan sedih apalagi kecewa ... kita cari lagi bazaar yang lainnya. Be Happy ... !
Selamat ber bazaar ria .... !
Terus terang, saya memang bazaar mania, bisa juga dibilang bazaar hunter. Saya sangat menikmati sensasi yang ditimbulkan dari suatu bazaar. Gimana gak, saya harus bisa mencapai target penjualan dalam jangka waktu yang sangat terbatas, umumnya bazaar diselenggarakan cuma sehari, kadang malah cuma setengah hari. Jadi, kalo ikutan bazaar kita betul-betul ditantang untuk membuat strategi yang jitu dengan kekuatan penuh biar bisa sukses.
Berdasarkan pengalaman mengikuti bazaar selama ini, berikut sedikit tips bagi yang mo ikutan bazaar :
1. Pilih tempat yang strategis, usahakan berada di sebelah kanan, karena secara psikologis umumnya pengunjung yang masuk mengambil arah ke kanan.
2. Display barang jualan kita se atraktif mungkin. Barang sebagus apapun kalo cuma ditumpuk doang siapa yang mau lihat ...
3. Buat brosur yang membuat orang penasaran, jangan lupa cantumkan nomor telepon dan alamat kita.
4. Sediakan uang pecahan untuk kembalian, sebaiknya ditaruh dalam tas selempang supaya gerak kita tidak terbatas.
5. Berikan penjelasan detail untuk produk yang kita jual
6. Pelayanan prima plus senyum ramah disertai ucapan terima kasih
Kalo semua tips sudah dipraktekkan tapi dagangan kita gak laku juga ?
Itu artinya belum rezeki kita. Jangan sedih apalagi kecewa ... kita cari lagi bazaar yang lainnya. Be Happy ... !
Selamat ber bazaar ria .... !
Langganan:
Postingan (Atom)